Senin, 13 Februari 2012

Artikel Pembelajaran Matematika di SD


Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif dan Media Kartu Angka sebagai Upaya Pengembangan Keterampilan Sosial dalam Pembelajaran Matematika SD yang Menyenangkan

Oleh : Elisa Hikmadewi / NIM 0903033
Mahasiswi Universitas Pendidikan Indonesia


A.      PENDAHULUAN

Mata pelajaran matematika perlu diberikan kepada semua peserta didik mulai dari sekolah dasar untuk membekali mereka dengan kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis dan kreatif serta kemampuan bekerja sama. Untuk mempermudah pemahaman konsep materi pelajaran, dalam proses belajar mengajar bisa dilakukan oleh siswa dengan saling bekerja sama antarindividu atau kelompok. Belajar berkelompok dapat menumbuhkan kesenangan atau minat siswa terhadap matematika. Melalui Model pembelajaran kooperatif inilah, siswa ditekankan untuk belajar dalam kelompok. Setiap siswa yang ada dalam kelompok mempunyai tingkat kemampuan yang berbeda-beda (tinggi, sedang dan rendah) dan jika memungkinkan anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku yang berbeda serta memperhatikan kesetaraan jender. Model pembelajaran kooperatif mengutamakan kerja sama dalam menyelesaikan permasalahan untuk menerapkan pengetahuan dan keterampilan dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran. Tujuan model pembelajaran kooperatif adalah hasil belajar akademik siswa meningkat dan siswa dapat menerima berbagai keragaman dari temannya, serta pengembangan keterampilan sosial. Selain itu, untuk menciptakan situasi belajar matematika yang menyenangkan bisa melalui belajar sambil bermain dengan media kartu angka supaya belajar siswa lebih bermakna.
Kurikulum mata pelajaran matematika sekolah dasar (SD) dirancang sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan siswa. Siswa SD dengan belajar matematika diharapkan mampu memecahkan masalah, melakukan penalaran, dan mengkomunikasikan gagasan secara matematika. Dalam kurikulum matematika SD kelas III Semester I dengan Standar Kompetensi : Melakukan operasi hitung bilangan sampai tiga angka memuat 5 (lima) Kompetensi Dasar. Dimana jika ditelaah dari standar kompetensinya, siswa diharapkan memiliki kompetensi mampu melakukan operasi hitung (+, -, x, : ) bilangan sampai tiga angka dan mampu mengaplikasikannya dalam memecahkan masalah yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari. Namun penulis lebih menitikberatkan pada kompetensi dasar : melakukan penjumlahan tiga angka dengan indikator hasil belajarnya antara lain : Siswa mampu menuliskan bilangan dalam bentuk panjang; melakukan pengerjaan hitung penjumlahan tanpa dan dengan teknik menyimpan; memecahkan masalah sehari-hari yang melibatkan penjumlahan.
Buku paket matematika SD yang penulis gunakan, untuk menanamkan konsep penjumlahan tiga angka, guru menggunakan media berpetak ratusan untuk mengkonkritkan konsep-konsep yang abstrak sesuai dengan karakteristik siswa SD yaitu peserta didik yang berada pada sekolah dasar kelas satu, dua, dan tiga berada pada rentangan usia dini, pada usia tersebut seluruh aspek perkembangan kecerdasan seperti IQ, EQ, dan SQ tumbuh dan berkembang sangat luar biasa, pada umumnya tingkat perkembangan masih melihat segala sesuatu sebagai satu keutuhan (holistik) serta mampu memahami hubungan antara konsep secara sederhana. Proses pembelajaran masih bergantung kepada objek-objek konkrit dan pengalaman yang dialami secara langsung. Sedangkan sebagai upaya pembinaan keterampilan digunakan metode mencongak atau pemberian soal non rutin (bisa menggunakan media kartu angka). Siswa dituntut untuk aktif dalam proses pembelajaran.
Pembelajaran kooperatif sejalan dengan teori Vygotsky yang mengembangkan model konstruktivistik belajar mandiri Piaget menjadi belajar kelompok melalui teori ini siswa dapat memperoleh pengetahuan konseptual dan keterampilan prosedural melalui kegiatan yang beraneka ragam dengan guru sebagai fasilitator. Vygotsky menekankan pentingnya memanfaatkan lingkungan dalam pembelajaran. Lingkungan sekitar siswa meliputi orang-orang, kebudayaan, termasuk pengalaman dalam lingkungan tersebut. Orang lain merupakan bagian dari lingkungan, pemerolehan pengetahuan siswa bermula dari lingkup sosial, antarorang, dan kemudian pada lingkup individu sebagai peristiwa internalisasi. Vygotsky menekankan pada pentingnya hubungan antara individu dan lingkungan sosial dalam pembentukan pengetahuan bahwa interaksi sosial yaitu interaksi individu tersebut dengan orang lain merupakan faktor terpenting yang dapat memicu perkembangan kognitif seseorang. Teori Vygotsky beranggapan bahwa pembelajaran terjadi apabila anak-anak bekerja atau belajar menangani tugas-tugas yang belum dipelajari namun tugas-tugas itu masih berada dalam jangkauan kemampuannya (zone of proximal development), yaitu perkembangan kemampuan siswa sedikit di atas kemampuan yang sudah dimilikinya. Vygotsky juga menjelaskan bahwa proses belajar terjadi pada dua tahap: tahap pertama terjadi pada saat berkolaborasi dengan orang lain, dan tahap berikutnya dilakukan secara individual yang di dalamnya terjadi proses internalisasi. Selama proses interaksi terjadi, baik antara guru-siswa maupun antarsiswa. Teori Ausubel menyatakan bahwa pengalaman belajar siswa dan pemahaman siswa mengenai suatu konsep yang masih bertemali dengan  konsep baru, akan mudah di mengerti dan dijabarkan dalam perspektif pengetahuan yang telah diperolehnya atau dengan kata lain belajar akan bermakna ketika siswa mampu mengembangkan materi/konsep yang telah diperolehnya pada keadaan lain sehingga belajarnya lebih dimengerti.
Untuk pencapaian kompetensi dasar : melakukan penjumlahan tiga angka, ada beberapa indikator yang harus ditempuh namun pada makalah ini penulis hanya membahas masalah berkenaan dengan penjumlahan dua bilangan tiga angka dengan teknik menyimpan dan memecahkan masalah sehari-hari yang melibatkan penjumlahan di kelas III SD semester I.



B.       PEMBAHASAN
Berorientasi pada batasan masalah yang penulis angkat berdasarkan kurikulum matematika SD kelas III semester I yaitu mengenai penjumlahan dua bilangan tiga angka dengan teknik menyimpan dan memecahkan masalah sehari-hari yang melibatkan penjumlahan di kelas III semester I maka indikator hasil belajar yang harus dicapai diantaranya : siswa dapat melakukan pengerjaan hitung penjumlahan dengan teknik menyimpan dan siswa dapat memecahkan masalah sehari-hari yang melibatkan penjumlahan. Untuk mencapai indikator tersebut mula-mula guru mengadakan apersepsi mengenai materi pelajaran pada pertemuan sebelumnya (penjumlahan tanpa teknik menyimpan dan nilai tempat sampai dengan ratusan) yang masih bertemali dengan konsep yang akan diajarkan. Kemudian guru menyampaikan tujuan pembelajarannya. Untuk menciptakan suasana belajar yang menyenangkan, guru menggunakan kartu angka sebagai media pembelajaran dan model pembelajaran kooperatif tipe numbered heads together dengan pendekatan tematik yang bertemakan Kebun. Langkah-langkah pembelajarannya sebagai berikut :
1.      Siswa dibagi dalam kelompok, setiap siswa dalam setiap kelompok mendapat nomor dan setiap kelompok memperoleh kartu angka yang banyaknya sama.
2.      Guru menyebutkan satu bilangan tiga angka yang diasumsikan sebagai banyaknya pisang yang dimilikinya.
3.      Siswa diminta guru untuk mengambil secara acak satu bilangan tiga angka sebagai asumsi banyaknya pisang yang dimiliki oleh siswa untuk digabungkan dengan banyaknya pisang milik guru.
4.      Kelompok mendiskusikan jawaban yang benar dan memastikan tiap anggota kelompok dapat mengerjakannya/mengetahui jawabannya.
5.      Guru memanggil salah satu nomor siswa dengan nomor yang dipanggil melaporkan hasil kerjasama mereka disertai langkah penyelesaiannya.
6.      Tanggapan dari teman yang lain, kemudian guru menunjuk nomor yang lain
7.      Untuk mengetahui pemahaman konsep siswa, guru menyajikan beberapa contoh soal dengan jawaban yang benar dan salah.
8.      Guru memberikan kesempatan kepada seluruh siswa untuk berargumen.
9.      Untuk pembinaan keterampilan, guru menyajikan latihan soal dengan cara mencongak.
10.  Setiap kelompok diberikan soal cerita yang bertemali dengan kehidupan sehari-hari masih ruang lingkup “Kebun”
11.  Lakukan langkah selanjutnya seperti diatas muali dari nomor 5-6.
Kurikulum 2006 (KTSP) matematika SD khususnya batasan masalah yang penulis angkat mengindikasikan indikator hasil belajar supaya siswa dapat melakukan pengerjaan hitung penjumlahan dengan teknik menyimpan dan memecahkan masalah sehari-hari yang melibatkan penjumlahan. Untuk mencapai indikator tersebut penulis mengaitkannya dengan teori Ausubel dan Vygotsky. Dimana teori Ausubel lebih kepada belajar bermaknanya yang beranggapan bahwa dalam matematika setiap konsep berkaitan dengan konsep lain, dan suatu konsep menjadi prasyarat bagi konsep lain. Oleh karena itu siswa harus lebih banyak diberi kesempatan untuk melakukan keterkaitan tersebut. Dan teori belajar Vygotsky yang lebih menekankan hubungan antara individu dengan lingkungan sosial dalam pembentukan pengetahuan. Belajar di lingkungan formal tidak lepas dari istilah pembelajaran, adapun teori Vygotsky yang berkaitan dengan pembelajaran yaitu
      Vygotsky mengemukakan empat prinsip seperti yang dikutip oleh (Slavin,   
    2000: 256) yaitu:
1.      Pembelajaran sosial (social leaning).
Pendekatan pembelajaran yang dipandang sesuai adalah pembelajaran kooperatif. Vygotsky menyatakan bahwa siswa belajar melalui interaksi bersama dengan orang dewasa atau teman yang lebih cakap;
2.        ZPD (zone of proximal development).
Bahwa siswa akan dapat mempelajari konsep-konsep dengan baik jika berada dalam ZPD. Siswa bekerja dalam ZPD jika siswa tidak dapat memecahkan masalah sendiri, tetapi dapat memecahkan masalah itu setelah mendapat bantuan orang dewasa atau temannya (peer); Bantuan atau support dimaksud agar si anak mampu untuk mengerjakan tugas-tugas atau soal-soal yang lebih tinggi tingkat kerumitannya dari pada tingkat perkembangan kognitif si anak.
3.        Masa Magang Kognitif (cognitif apprenticeship).
Suatu proses yang menjadikan siswa sedikit demi sedikit memperoleh kecakapan intelektual melalui interaksi dengan orang yang lebih ahli, orang dewasa, atau teman yang lebih pandai;
4.      Pembelajaran Termediasi (mediated learning).
Vygostky menekankan pada scaffolding. Siswa diberi masalah yang kompleks, sulit, dan realistik, dan kemudian diberi bantuan secukupnya dalam memecahkan masalah siswa.

Hasil analisis buku paket khususnya topik / masalah yang penulis angkat mengindikasikan supaya siswa belajar aktif; membangun konsep baru dari pengalaman belajar / konsep sebelumnya yang masih bertemali; mampu mengkomunikasikan dan mengaplikasikan konsep tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini bertemali dengan dimensi antarkonsep dalam teori belajar Ausubel yang menyatakan ‘belajar’ dapat diklasifikasikan dalam dua dimensi. Pertama, berhubungan dengan cara informasi atau konsep pelajaran yang disajikan pada siswa melalui penemuan atau penerimaan. Kedua, menyangkut cara bagaimana siswa dapat mengaitkan informasi itu pada struktur kognitif yang telah ada (telah dimiliki dan diingat siswa tersebut). Dan juga teori Vygotsky yang menyatakan bahwa proses belajar akan terjadi secara efisien dan efektif apabila anak belajar secara kooperatif dengan anak-anak lain dalam suasana dan lingkungan yang mendukung (supportive), dalam bimbingan seseorang yang lebih mampu, guru atau orang dewasa.
Kompetensi yang diharapkan pada kurikulum matematika SD dan analisis buku paket sesuai batasan masalah yang penulis sajikan diantaranya sebagai upaya untuk mengembangkan keterampilan sosial; mengkomunikasikan; berdiskusi; bekerja sama; mengkonstruk pengetahuan atau konsep baru yang dikaitkan dengan pengalaman belajar siswa dan mampu mengaplikasikannya untuk memecahkan soal cerita yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari; upaya pembinaan keterampilan dengan metode mencongak atau pemberian soal non rutin; dan siswa dituntut untuk aktif dalam proses pembelajaran. Semua kompetensi tersebut dikemas dalam pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif dimana dikembangkan diskusi dan komunikasi dengan tujuan agar siswa saling berbagi kemampuan, saling belajar berpikir kritis, saling menyampaikan pendapat, saling memberi kesempatan menyalurkan kemampuan, saling membantu belajar, saling menilai kemampuan dan peranan diri sendiri maupun teman lain sebagai upaya pengembangan keterampilan sosial dan belajar dari lingkungan sekitar siswa. Hal ini sejalan dengan teori belajar Vygotsky yang menekankan pentingnya hubungan antara individu dan lingkungan sosial dalam pembentukan pengetahuan. Menerapkan metode kerja kelompok sebagai upaya melatih keterampilan sosial siswa dan metode tanya jawab guna menstimulus keaktifan siswa dalam belajar dan berani mengkomunikasikan secara lisan. Adapun upaya menciptakan situasi belajar yang menyenangkan dan bermakna, penulis menerapkan metode yang dapat memotivasi / memunculkan gairah siswa untuk belajar, menuntut siswa untuk belajar sambil melakukan serta menarik perhatian siswa dalam belajar seperti metode permainan angka dan metode penemuan yang sejalan dengan teori Ausubel yang terkenal dengan teori belajar bermaknanya yang berimplikasi pada pemahaman terhadap konsep sebelumnya sebagai prasyarat penerapan konsep baru yang saling bertemali sehingga materi / konsep yang telah diperolehnya dapat dikembangkan pada keadaan lain sehingga belajarnya lebih dimengerti dan mudah untuk diaplikasikan guna memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari. Adapun pendekatan yang penulis terapkan yaitu menggunakan pendekatan tematik karena sesuai karakteristik siswa kelas rendah yang masih bersifat holistik.






C.      PENUTUP
Salah satu upaya untuk memperoleh hasil belajar yang maksimal dalam proses pembelajaran adalah pemilihan berbagai variasi pendekatan, strategi serta metode yang sesuai dengan situasi pembelajaran dari aspek guru maupun siswanya sehingga tujuan pembelajaran yang direncanakan akan tercapai.
Tujuan pembelajaran yang penulis batasi dari permasalahan pada makalah ini yaitu siswa dapat melakukan pengerjaan hitung penjumlahan dengan teknik menyimpan dan dapat memecahkan masalah sehari-hari yang melibatkan penjumlahan. Untuk mencapai tujuan pembelajaran tersebut maka pembelajaran matematika dikemas dengan penerapan model pembelajaran kooperatif dimana setiap siswa dalam kelompok-kelompok yang mempunyai tingkat kemampuan, budaya, etnis, sosial yang berbeda-beda, mengutamakan kerjasama untuk menyelesaikan permasalahan serta menerapkan pengetahuan dan keterampilan, adapun model pembelajaran kooperatif yang penulis gunakan yaitu model pembelajarn kooperatif tipe NHT (Number Heads Together) sebagai upaya peningkatan keterampilan sosial dan menggunakan media angka dengan metode permainan sehingga menciptakan situasi belajar belajar matematika yang menyenangkan. Selain itu pendekatan yang diterapkan adalah pendekatan tematik karena memandang karakteristik siswa SD kelas rendah yang masih berfikir holistik. Metode yang relevan dengan karakteristik siswa dan aspek guru yaitu melalui metode tanya jawab, permainan, kerja kelompok, dan penemuan. Teori belajar yang sejalan yaitu teori Vygotsky dan Ausubel.

DAFTAR PUSTAKA

Depdiknas. (2006). Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Matematika Kelas 2.   
       Jakarta : Pusat Kurikulum
Heruman. (2007). Model Pembelajaran Matematika di Sekolah Dasar. Bandung : PT Remaja Rosdakarya
M.Khafid, Suyati. (2007). Pelajaran Matematika untuk Sekolah Dasar Kelas III
       Semester I. Jakarta : Erlangga
Widyantini. (2006). Model Pembelajaran Matematika dengan Pendekatan
       Kooperatif. Yogyakarta : PPPG Matematika

1 komentar:

  1. Casino.com (New Jersey) - Mapyro
    Casino.com is your New Jersey Casino when you 보령 출장샵 blend the power 전라북도 출장마사지 and 의정부 출장안마 excitement of Atlantic City with the thrill of gaming! Casino.com 하남 출장안마 features over 300 of 강릉 출장안마 the hottest

    BalasHapus