Penerapan Model
Pembelajaran Kooperatif dan Media Kartu Angka sebagai Upaya Pengembangan
Keterampilan Sosial dalam Pembelajaran Matematika SD yang Menyenangkan
Oleh : Elisa Hikmadewi / NIM
0903033
Mahasiswi Universitas Pendidikan Indonesia
A.
PENDAHULUAN
Mata
pelajaran matematika perlu diberikan kepada semua peserta didik mulai dari
sekolah dasar untuk membekali mereka dengan kemampuan berpikir logis, analitis,
sistematis, kritis dan kreatif serta kemampuan bekerja sama. Untuk mempermudah
pemahaman konsep materi pelajaran, dalam proses belajar mengajar bisa dilakukan
oleh siswa dengan saling bekerja sama antarindividu atau kelompok. Belajar
berkelompok dapat menumbuhkan kesenangan atau minat siswa terhadap matematika. Melalui
Model pembelajaran kooperatif inilah, siswa ditekankan untuk belajar dalam
kelompok. Setiap siswa yang ada dalam kelompok mempunyai tingkat kemampuan yang
berbeda-beda (tinggi, sedang dan rendah) dan jika memungkinkan anggota kelompok
berasal dari ras, budaya, suku yang berbeda serta memperhatikan kesetaraan
jender. Model pembelajaran kooperatif mengutamakan kerja sama dalam
menyelesaikan permasalahan untuk menerapkan pengetahuan dan keterampilan dalam
rangka mencapai tujuan pembelajaran. Tujuan model pembelajaran kooperatif
adalah hasil belajar akademik siswa meningkat dan siswa dapat menerima berbagai
keragaman dari temannya, serta pengembangan keterampilan sosial. Selain itu,
untuk menciptakan situasi belajar matematika yang menyenangkan bisa melalui
belajar sambil bermain dengan media kartu angka supaya belajar siswa lebih
bermakna.
Kurikulum
mata pelajaran matematika sekolah dasar (SD) dirancang sesuai dengan kemampuan
dan kebutuhan siswa. Siswa SD dengan belajar matematika diharapkan mampu
memecahkan masalah, melakukan penalaran, dan mengkomunikasikan gagasan secara
matematika. Dalam kurikulum matematika SD kelas III Semester I dengan Standar
Kompetensi : Melakukan operasi hitung bilangan sampai tiga angka memuat 5
(lima) Kompetensi Dasar. Dimana jika ditelaah dari standar kompetensinya, siswa
diharapkan memiliki kompetensi mampu melakukan operasi hitung (+, -, x, : )
bilangan sampai tiga angka dan mampu mengaplikasikannya dalam memecahkan
masalah yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari. Namun penulis lebih
menitikberatkan pada kompetensi dasar : melakukan penjumlahan tiga angka dengan
indikator hasil belajarnya antara lain : Siswa mampu menuliskan bilangan dalam
bentuk panjang; melakukan pengerjaan hitung penjumlahan tanpa dan dengan teknik
menyimpan; memecahkan masalah sehari-hari yang melibatkan penjumlahan.
Buku paket matematika SD yang
penulis gunakan, untuk menanamkan konsep penjumlahan tiga angka, guru
menggunakan media berpetak ratusan untuk mengkonkritkan konsep-konsep yang
abstrak sesuai dengan karakteristik siswa SD yaitu peserta didik yang berada
pada sekolah dasar kelas satu, dua, dan tiga berada pada rentangan usia dini,
pada usia tersebut seluruh aspek perkembangan kecerdasan seperti IQ, EQ, dan SQ
tumbuh dan berkembang sangat luar biasa, pada umumnya tingkat perkembangan
masih melihat segala sesuatu sebagai satu keutuhan (holistik) serta mampu
memahami hubungan antara konsep secara sederhana. Proses pembelajaran masih
bergantung kepada objek-objek konkrit dan pengalaman yang dialami secara
langsung. Sedangkan sebagai upaya pembinaan keterampilan digunakan metode
mencongak atau pemberian soal non rutin (bisa menggunakan media kartu angka).
Siswa dituntut untuk aktif dalam proses pembelajaran.
Pembelajaran kooperatif sejalan
dengan teori Vygotsky yang mengembangkan model konstruktivistik belajar mandiri
Piaget menjadi belajar kelompok melalui teori ini siswa dapat memperoleh
pengetahuan konseptual dan keterampilan prosedural melalui kegiatan yang
beraneka ragam dengan guru sebagai fasilitator. Vygotsky menekankan pentingnya
memanfaatkan lingkungan dalam pembelajaran. Lingkungan sekitar siswa meliputi
orang-orang, kebudayaan, termasuk pengalaman dalam lingkungan tersebut. Orang
lain merupakan bagian dari lingkungan, pemerolehan pengetahuan siswa bermula
dari lingkup sosial, antarorang, dan kemudian pada lingkup individu sebagai
peristiwa internalisasi. Vygotsky menekankan pada pentingnya hubungan antara
individu dan lingkungan sosial dalam pembentukan pengetahuan bahwa interaksi
sosial yaitu interaksi individu tersebut dengan orang lain merupakan faktor
terpenting yang dapat memicu perkembangan kognitif seseorang. Teori Vygotsky
beranggapan bahwa pembelajaran terjadi apabila anak-anak bekerja atau belajar
menangani tugas-tugas yang belum dipelajari namun tugas-tugas itu masih berada
dalam jangkauan kemampuannya (zone of proximal development), yaitu
perkembangan kemampuan siswa sedikit di atas kemampuan yang sudah dimilikinya.
Vygotsky juga menjelaskan bahwa proses belajar terjadi pada dua tahap: tahap
pertama terjadi pada saat berkolaborasi dengan orang lain, dan tahap berikutnya
dilakukan secara individual yang di dalamnya terjadi proses internalisasi.
Selama proses interaksi terjadi, baik antara guru-siswa maupun antarsiswa.
Teori Ausubel menyatakan bahwa pengalaman belajar siswa dan pemahaman siswa
mengenai suatu konsep yang masih bertemali dengan konsep baru, akan mudah di mengerti dan
dijabarkan dalam perspektif pengetahuan yang telah diperolehnya atau dengan
kata lain belajar akan bermakna ketika siswa mampu mengembangkan materi/konsep
yang telah diperolehnya pada keadaan lain sehingga belajarnya lebih dimengerti.
Untuk pencapaian kompetensi dasar :
melakukan penjumlahan tiga angka, ada beberapa indikator yang harus ditempuh
namun pada makalah ini penulis hanya membahas masalah berkenaan dengan
penjumlahan dua bilangan tiga angka dengan teknik menyimpan dan memecahkan
masalah sehari-hari yang melibatkan penjumlahan di kelas III SD semester I.
B.
PEMBAHASAN
Berorientasi pada
batasan masalah yang penulis angkat berdasarkan kurikulum matematika SD kelas
III semester I yaitu mengenai penjumlahan dua bilangan tiga angka dengan teknik
menyimpan dan memecahkan masalah sehari-hari yang melibatkan penjumlahan di
kelas III semester I maka indikator hasil belajar yang harus dicapai
diantaranya : siswa dapat melakukan pengerjaan hitung penjumlahan dengan teknik
menyimpan dan siswa dapat memecahkan masalah sehari-hari yang melibatkan
penjumlahan. Untuk mencapai indikator tersebut mula-mula guru mengadakan
apersepsi mengenai materi pelajaran pada pertemuan sebelumnya (penjumlahan
tanpa teknik menyimpan dan nilai tempat sampai dengan ratusan) yang masih
bertemali dengan konsep yang akan diajarkan. Kemudian guru menyampaikan tujuan
pembelajarannya. Untuk menciptakan suasana belajar yang menyenangkan, guru
menggunakan kartu angka sebagai media pembelajaran dan model pembelajaran
kooperatif tipe numbered heads together
dengan pendekatan tematik yang bertemakan Kebun. Langkah-langkah
pembelajarannya sebagai berikut :
1. Siswa dibagi dalam kelompok, setiap siswa dalam setiap
kelompok mendapat nomor dan setiap kelompok memperoleh kartu
angka yang banyaknya sama.
2. Guru
menyebutkan satu bilangan tiga angka yang diasumsikan sebagai banyaknya pisang
yang dimilikinya.
3. Siswa
diminta guru untuk mengambil secara acak satu bilangan tiga angka sebagai asumsi
banyaknya pisang yang dimiliki oleh siswa untuk digabungkan dengan banyaknya
pisang milik guru.
4. Kelompok mendiskusikan jawaban yang benar dan
memastikan tiap anggota kelompok dapat mengerjakannya/mengetahui jawabannya.
5. Guru memanggil salah satu nomor siswa dengan nomor
yang dipanggil melaporkan hasil kerjasama mereka disertai
langkah penyelesaiannya.
6. Tanggapan dari teman yang lain, kemudian guru menunjuk
nomor yang lain
7. Untuk
mengetahui pemahaman konsep siswa, guru menyajikan beberapa contoh soal dengan
jawaban yang benar dan salah.
8. Guru
memberikan kesempatan kepada seluruh siswa untuk berargumen.
9. Untuk
pembinaan keterampilan, guru menyajikan latihan soal dengan cara mencongak.
10. Setiap
kelompok diberikan soal cerita yang bertemali dengan kehidupan sehari-hari
masih ruang lingkup “Kebun”
11. Lakukan
langkah selanjutnya seperti diatas muali dari nomor 5-6.
Kurikulum 2006 (KTSP)
matematika SD khususnya batasan masalah yang penulis angkat mengindikasikan
indikator hasil belajar supaya siswa dapat melakukan pengerjaan hitung
penjumlahan dengan teknik menyimpan dan memecahkan masalah sehari-hari yang
melibatkan penjumlahan. Untuk mencapai indikator tersebut penulis mengaitkannya
dengan teori Ausubel dan Vygotsky. Dimana teori Ausubel lebih kepada belajar
bermaknanya yang beranggapan bahwa dalam matematika setiap konsep berkaitan
dengan konsep lain, dan suatu konsep menjadi prasyarat bagi konsep lain. Oleh
karena itu siswa harus lebih banyak diberi kesempatan untuk melakukan
keterkaitan tersebut. Dan teori belajar Vygotsky yang lebih menekankan hubungan
antara individu dengan lingkungan sosial dalam pembentukan pengetahuan. Belajar
di lingkungan formal tidak lepas dari istilah pembelajaran, adapun teori
Vygotsky yang berkaitan dengan pembelajaran yaitu
Vygotsky mengemukakan empat prinsip
seperti yang dikutip oleh (Slavin,
2000: 256) yaitu:
1.
Pembelajaran
sosial (social leaning).
Pendekatan pembelajaran yang
dipandang sesuai adalah pembelajaran kooperatif. Vygotsky menyatakan bahwa
siswa belajar melalui interaksi bersama dengan orang dewasa atau teman yang
lebih cakap;
2.
ZPD
(zone of proximal development).
Bahwa siswa akan dapat
mempelajari konsep-konsep dengan baik jika berada dalam ZPD. Siswa bekerja
dalam ZPD jika siswa tidak dapat memecahkan masalah sendiri, tetapi dapat
memecahkan masalah itu setelah mendapat bantuan orang dewasa atau temannya
(peer); Bantuan atau support dimaksud agar si anak mampu untuk mengerjakan
tugas-tugas atau soal-soal yang lebih tinggi tingkat kerumitannya dari pada
tingkat perkembangan kognitif si anak.
3.
Masa
Magang Kognitif (cognitif apprenticeship).
Suatu
proses yang menjadikan siswa sedikit demi sedikit memperoleh kecakapan
intelektual melalui interaksi dengan orang yang lebih ahli, orang dewasa, atau
teman yang lebih pandai;
4.
Pembelajaran
Termediasi (mediated learning).
Vygostky
menekankan pada scaffolding. Siswa diberi masalah yang kompleks, sulit, dan
realistik, dan kemudian diberi bantuan secukupnya dalam memecahkan masalah
siswa.
Hasil analisis buku paket khususnya
topik / masalah yang penulis angkat mengindikasikan supaya siswa belajar aktif;
membangun konsep baru dari pengalaman belajar / konsep sebelumnya yang masih
bertemali; mampu mengkomunikasikan dan mengaplikasikan konsep tersebut dalam
kehidupan sehari-hari. Hal ini bertemali dengan dimensi antarkonsep dalam teori
belajar Ausubel yang menyatakan ‘belajar’ dapat diklasifikasikan dalam dua
dimensi. Pertama, berhubungan dengan
cara informasi atau konsep pelajaran yang disajikan pada siswa melalui penemuan
atau penerimaan. Kedua, menyangkut
cara bagaimana siswa dapat mengaitkan informasi itu pada struktur kognitif yang
telah ada (telah dimiliki dan diingat siswa tersebut). Dan juga teori Vygotsky
yang menyatakan bahwa proses belajar akan terjadi secara efisien dan efektif
apabila anak belajar secara kooperatif dengan anak-anak lain dalam suasana dan
lingkungan yang mendukung (supportive), dalam bimbingan seseorang yang lebih
mampu, guru atau orang dewasa.
Kompetensi yang diharapkan pada
kurikulum matematika SD dan analisis buku paket sesuai batasan masalah yang
penulis sajikan diantaranya sebagai upaya untuk mengembangkan keterampilan
sosial; mengkomunikasikan; berdiskusi; bekerja sama; mengkonstruk pengetahuan
atau konsep baru yang dikaitkan dengan pengalaman belajar siswa dan mampu
mengaplikasikannya untuk memecahkan soal cerita yang berkaitan dengan kehidupan
sehari-hari; upaya pembinaan keterampilan dengan metode mencongak atau
pemberian soal non rutin; dan siswa dituntut untuk aktif dalam proses
pembelajaran. Semua kompetensi tersebut dikemas dalam pembelajaran dengan
menggunakan model pembelajaran kooperatif dimana dikembangkan diskusi dan
komunikasi dengan tujuan agar siswa saling berbagi kemampuan, saling belajar
berpikir kritis, saling menyampaikan pendapat, saling memberi kesempatan
menyalurkan kemampuan, saling membantu belajar, saling menilai kemampuan dan
peranan diri sendiri maupun teman lain sebagai upaya pengembangan keterampilan
sosial dan belajar dari lingkungan sekitar siswa. Hal ini sejalan dengan teori
belajar Vygotsky yang menekankan pentingnya hubungan antara individu dan
lingkungan sosial dalam pembentukan pengetahuan. Menerapkan metode kerja
kelompok sebagai upaya melatih keterampilan sosial siswa dan metode tanya jawab
guna menstimulus keaktifan siswa dalam belajar dan berani mengkomunikasikan
secara lisan. Adapun upaya menciptakan situasi belajar yang menyenangkan dan
bermakna, penulis menerapkan metode yang dapat memotivasi / memunculkan gairah
siswa untuk belajar, menuntut siswa untuk belajar sambil melakukan serta
menarik perhatian siswa dalam belajar seperti metode permainan angka dan metode
penemuan yang sejalan dengan teori Ausubel yang terkenal dengan teori belajar
bermaknanya yang berimplikasi pada pemahaman terhadap konsep sebelumnya sebagai
prasyarat penerapan konsep baru yang saling bertemali sehingga materi / konsep
yang telah diperolehnya dapat dikembangkan pada keadaan lain sehingga
belajarnya lebih dimengerti dan mudah untuk diaplikasikan guna memecahkan
masalah dalam kehidupan sehari-hari. Adapun pendekatan yang penulis terapkan
yaitu menggunakan pendekatan tematik karena sesuai karakteristik siswa kelas
rendah yang masih bersifat holistik.
C.
PENUTUP
Salah satu upaya untuk memperoleh
hasil belajar yang maksimal dalam proses pembelajaran adalah pemilihan berbagai
variasi pendekatan, strategi serta metode yang sesuai dengan situasi
pembelajaran dari aspek guru maupun siswanya sehingga tujuan pembelajaran yang
direncanakan akan tercapai.
Tujuan pembelajaran yang penulis
batasi dari permasalahan pada makalah ini yaitu siswa dapat melakukan
pengerjaan hitung penjumlahan dengan teknik menyimpan dan dapat memecahkan
masalah sehari-hari yang melibatkan penjumlahan. Untuk mencapai tujuan
pembelajaran tersebut maka pembelajaran matematika dikemas dengan penerapan
model pembelajaran kooperatif dimana setiap siswa dalam kelompok-kelompok yang
mempunyai tingkat kemampuan, budaya, etnis, sosial yang berbeda-beda,
mengutamakan kerjasama untuk menyelesaikan permasalahan serta menerapkan
pengetahuan dan keterampilan, adapun model pembelajaran kooperatif yang penulis
gunakan yaitu model pembelajarn kooperatif tipe NHT (Number Heads Together) sebagai
upaya peningkatan keterampilan sosial dan menggunakan media angka dengan metode
permainan sehingga menciptakan situasi belajar belajar matematika yang menyenangkan.
Selain itu pendekatan yang diterapkan adalah pendekatan tematik karena memandang
karakteristik siswa SD kelas rendah yang masih berfikir holistik. Metode yang
relevan dengan karakteristik siswa dan aspek guru yaitu melalui metode tanya
jawab, permainan, kerja kelompok, dan penemuan. Teori belajar yang sejalan
yaitu teori Vygotsky dan Ausubel.
DAFTAR PUSTAKA
Depdiknas. (2006). Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Matematika Kelas 2.
Jakarta : Pusat
Kurikulum
Heruman.
(2007). Model Pembelajaran Matematika di
Sekolah Dasar. Bandung : PT Remaja Rosdakarya
M.Khafid,
Suyati. (2007). Pelajaran Matematika
untuk Sekolah Dasar Kelas III
Semester I. Jakarta
: Erlangga
Widyantini.
(2006). Model Pembelajaran Matematika
dengan Pendekatan
Kooperatif. Yogyakarta :
PPPG Matematika
Casino.com (New Jersey) - Mapyro
BalasHapusCasino.com is your New Jersey Casino when you 보령 출장샵 blend the power 전라북도 출장마사지 and 의정부 출장안마 excitement of Atlantic City with the thrill of gaming! Casino.com 하남 출장안마 features over 300 of 강릉 출장안마 the hottest